Mengagumi Tanpa Bisa Memiliki


Hari ini penuh kebahagiaan karena ini pertama kalinya aku berjumpa dengan teman baru, karena kesibukan orang tua ku yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya dengan terpaksa aku pindah ke sekolah baru.
“teet....teet...teet...” bel telah berbunyi dan menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar akan segera di mulai, aku bergegas masuk ke dalam kelas. Dan ternyata aku masuk di kelas XI-IPS 3. Saat masuk kelas banyak teman teman yang sudah menunggu.
“Hai... kenalin nama ku yofa” Ujar seorang wanita dengan menggunakan jilbab putih.
“Hai... juga nama ku Nayla” aku menanggapi sambil menjabat tangan nya. Saat aku asyik ngobrol bareng yofa tiba tiba ada seorang laki-laki masuk dalam kelas ku sambil membawa buku, dia orangnya sedikit tua sambil menggunakan kacamata hitam.
“Selamat pagi anak anak” sapa guru itu.
“Selamat pagi pak” kami sekelas menjawab dengan serentak.
“Perkenalakan nama saya pak firman, saya akan menjadi wali kelas kalian selama kelas XI. Saya harap kalian bisa belajar dengan rajin, sanggup anak anak?” pak guru kembali bertanya.

Dengan nada tinggi dan penuh semangat aku dan temna-teman menjawab “Sanggup pak!”
Hari pertama ku masuk sekolah hanya di isi dengan perkenalan dan penyusunan struktur kelas. Karena sistem di sekolah ini selalu roling, atau pindah kelas jika naik kelas selanjutnya, jadi satu sama lain ada yang belum kenal.
“Pak firman meminta kesediaanya kalian, siapa yang mau jadi pengurus kelas?”
Namun tak ada satupun dari kami yang bersedia untuk menjadi pengurus kelas, tiba-tiba teman ku yang bernama dwi angkat tangan.
“Iya, kenapa dwi? Kamu mau jadi ketua kelas?” tanya pak firman.
“Tidak pak, saya cuma mau usul saja pak.” Dwi menjawab.
“Usul apa?” pak firman kembali bertanya.
“Bagaiman kalau pemilihan pengurus kelasnya di voting pak?” usul dwi.
“Ide yang bagus, oke anak anak siapa menurut kalian yang cocok jadi kandidat pengurus kelas?” saat pak firman bertanya semua siswa saling tunjuk.
“andi saja pak?” teriak selvi.
“Woi, jangan aku. Aku gak bisa. dedi saja” sanggah andi selagi nunjuk dedi.
“Waduh jangan aku, cahyono saja, dia anaknya pandai” ujar dedi, kebetulan cahyono adalah teman sekelas yanuar semasa SMP di SMP Bhakti Ibu. SMP Bhakti Ibu terkenal dengan anaknya yang cerdas dan kaya raya. Sedangkan aku sendiri lulusan MTS Al-Abrour. Dan kini aku masuk di SMA Budi Luhur, salah satu sekolah menengah atas yang terkemuka di kotaku.
“Yasudah anak-anak kalau gak ada yang berkenan, langsung saja saya yang nunjuk” ujar pak firman.
“Untuk laki-laki nya saya menunjuk fauzi, rahmad, anton. Dan untuk perempuan saya menunjuk sumy, farah, dan cindy” ujar pak firman dan dilanjutkan untuk voting pemilihan ketua kelas, dan akhirnya fauzi teripih menjadi ketua kelas, rahmad sebagai wakilnya, sumy sekertaris dan farah bendahara.
“Fauzi, selamat ya. Tolong kamu pimpin kelas ini sebaik mungkin, bapak percayakan sama kamu. Dan untuk yang lainnya tolong kerjasamanya membantu fauzi dalam memimpin kelas” pesan pak firman.
“Iya pak” kami semua serentak menjawab.

Saat bel istirhat berbunyi aku bergegas menuju kantin sekolahan, bersama farah dan sumy, kami saling bertukar cerita dan canda tawa, hingga tak terasa bel masuk berbunyi kami bertiga memutuskan masuk kelas dan melanjutkan pelajaran berikutnya.
Suatu ketika saat jam kosong aku memutuskan untuk duduk-duduk di depan kelas sambil melihat salah satu ekstrakulikuler di sekolah ku sedang latihan, tiba-tiba aku terpanah melihat salah satu anak yang berada dilapangan tersebut. Wajahnya begitu manis, berwibawa, dan penuh dengan ketegasan. Aku merasakan hal yang aneh, hatiku bergetar, dan terkagum melihatnya. Dalam lamunanku aku berfikir, inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama? Saat sedang asyik melamun tiba-tiba yofa datang mengagetkan ku sambil berteriak.
“Hei....” teriak yofa.
“Duh... ngagetin aja kamu ini” jawab ku.
“Ngapain di depan sendiri, sedang melamun ya?” teriaknya kembali.
“Ah...kamu ini sok tahu” aku menyangkalnya.
“Udah akui saja, memang mikirin apaan sih?” tanya yofa.
“Ih....kepo deh” jawabku sambil bergegas masuk kelas dan yofa mengikuti dibelakang ku.
Di dalam suasana semakin ramai, ada yang main tebak-tebakkan, ada yang dengerin musik, ada pula yang tidur dalam kelas. Aku dan yofa memutuskan untuk ngobrol santai, kebetulan kami berdua duduk satu bangku. Ingin sekali rasanya kutanyakan pada yofa siapa laki-laki itu, untuk menjawab rasa penasaran ini. Dan akhirnya ku beranikan untuk bertanya.
“Yof, kamu kenal gak sama dia?” tanya ku sambil menunjuk ke arah lapangan.
“Yang mana?” tanya yofa sambil menerka-nerka.
“Itu yang ad dilapangan” jawab ku.
“Yang mana sih?” tanya yofa kembali selagi penasaran.
“Itu lho yang mimpin latihan” jawab ku sekali lagi.
“Oh... itu. Aku tahu dia anak ipa 1, memang kenapa? Kamu naksir ya?” dengan rasa sok tahunya.
“Ih... gak lah” sambil membuka buku.
“Yasudah kalau begitu, kirain ada apa” ujarnya sambil bergegas bemain dengan teman yang lain.

Aku mengalihkan perhatiannya dengan mengambil buku yang ad disebelah yofa, namun fikiran tidak bisa fokus memahami isi buku itu. Perhatian ku mengarah kepada sosok laki-laki tegas dan berwibawa yang ada dilapangan tersebut. Aku terus memandangi dan memperhatikannya semakin larut dalam lamunan ku, tanpa kusadari ada seorang guru tiba-tiba masuk sambil membuyarkan lamunan ku.
Sesampainya di rumah aku terbayang sosoknya yang menghantui fikiran ku, sambil duduk di atas kasur aku mencoba mengalihkan perhatian yang selalu hadir dalam lamunanku.
“Tok...tok...tok...” tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.
“Iya, siapa?” aku berteriak.
“Ini umi dik” jawabnya.
“Ada apa mi?” tanya ku.
“Ayo makan malam dulu dik” jawab umi.
“Iya mi, nanti nayla turun” jawab ku sambil meyakinkan umi.

Setelah ganti baju aku bergegas turun, dan menyantap hidangan makam malam bersama keluarga, setelah malam aku kembali bergegas menuju kamar untuk belajar dan menyiapkan pelajaran buat esok.
Keeseokan harinya aku berangkat penuh semangat dan berharap bisa bertemu dengannya, tanpa di sangka sesampai di sekolah aku bertemu dengannya ketika dia berada di depan kelasnya. Seketika itu pula aku terdiam dan membisu, merasakan sebuah kebahagiaan yang tiada tara, bertemu dengan seseorang yang telah meluluh lantahkan fikiran ku. Sungguh hari yang sangat indah bila bertemu dengannya, dalam hati aku berkata “andaikan aku bisa mendekatinya. Alangkah bahagianya aku” ah.. itu tidak mungkin (Gumam ku dalam diri sambil berjalan menju kelas. Saat aku duduk di bangku sambil melamun tiba tiba yofa menghampiri.
“Aku tadi bertemu pangeran mu lho” ujarnya sambil tersenyum.
“Pangeran ku? Siapa?” tanya ku sambil menerka-nerka.
“Alah udah deh gak usah sok gak tahu, itu tuh yang berdiri di depan kelas ipa satu” jawabnya.
“Oh... dia.. aku juga ketemu tadi” jawabku kembali.
“Ciye...yang lagi seneng habis ketemu pujaan hatinya”  ujar yofa sambil menggoda ku.
Mulai saat itu aku selalu memperhatikannnya saat dia melakukan latihan, bahkan saat dia ke kantin sekolahan, namun sampai detik ini aku belum tahu siapa namanya. Ingin sekali ku mengenalnya namun hatiku tak mampu melakukannya, tak cukup mental untuk mendekati seseorang seperti dia. Aura keindahan cinta selalu terpancar ketika ku menatapya, seakan dia begitu sempurna.
Suatu ketika aku terbakar api cemburu karena ku melihat dia dengan cewek lain, aku sendiri tak tahu apa itu pacarnya atau sekedar sahabatnya. Namun dalam pandangan ku cewek itu adalah pacarnya. Dugaan ku semkin kuat karena setiap hari dia jalan bersama cewek itu, ketika latihan, ke kantin bahkan mereka berdua semakin mesra.ingin ku beranikan diri untuk bertanya siapa cewek itu, apa ada hubungan khusus dengannya? Aku semakin penasaran dan terus mencari informasi tentang mereka berdua. Dan akhirnya ku beranikan diri tanya kepada temanku yang kebetulan juga anak ipa, dia namanya eka anaknya lumayan pandai dan suka bergaul.
“Hai...ka” sapa ku ke eka.
“Hai juga nay.. tumben ke kelas ku. Ada apa niy?” jawabnya sambil melempar pertanyaan kepadaku.
“Emang gak boleh ya? Oke aku balik” jawab ku dengan nada sinis.
“Nah nay.. kok jadi ngambek sih, boleh boleh. Cuma tumben aja, kan biasanya kamu selalu menyendiri di dalam kelas cari wangsit. Hehehehhe” sahutnya sambil tertawa lepas dan menahan ku pergi.
“Iya nih, lagi bete di kelas. Eh... ka, kamu kenal anak itu gak?” tanyaku.
“Yang mena?” tanya eka kepadaku sambil mencari-cari
“Itu dua anak yang duduk di samping mushola” kataku sambil menunjuk arah samping kiri mushola.
“Ouw itu, aku tahu. Yang cowok namanya Nofi anak ipa satu dan yang cewek namanya Retha anak ipa dua, mereka anggota paskib sekolah kita. Kenapa?” jawab eka.
“Mereka itu ada hubungan apa sih, kok tiap hari jalan berdua terus, gak latihan gak di kantin bareng terus, mereka pacaran ya?” Kembali ku bertanya.
“Kayaknya sih iya, anak-anak juga banyak yang bilang kalau mereka pacaran karena deket banget. Kamu naksir ya?” seloroh eka.
“eh...ah... gak kok, yawdah makasih aya, aku balik ke kelas dulu. Bye...” jawab ku sambil berjalan meninggalkan kelas eka dan menuju kelas ku.

Nofi, ya... itulah nama seorang cowok yang selama ini ku kagumi, seseorang yang selama ini memancarkan cahaya keindahan ketika memandangnya. Dan Retha, itu nama seorang selalu ada di sampingnya, seseorang yang selalu ada buatnya. Cewek yang begitu sempurna, dengan wajah yang cantik, berkulit putih, postur tubuh tinggi, rambut lurus sebahu, membuatnya tampak lebih anggun. Wajar saja nofi selalu bersamanya karena dia cewek yang begitu perfect, dan lebih dari segalanya. Semakin hari perasaan ingin memilikinya semakin kuat, hari-hari ku larut dalam lubang kbimbangan, terkadang aku bahagia melihatnya namun terkadang aku terbakar cemburu ketika melihatnya dengan cewek lain.

Tak terasa sudah satu tahun aku menempuh pendidikan di sekolah ku dan sekarang aku duduk di kelas XII, dan setahun pula aku merasakan cinta yang tak terbalas. Mengagumi tanpa bisa memiliki, ya mungkin itu kata yang pas untuk ku saat ini. Hari-hari ku larut dengan harapan, harapan untuk bisa menjadi yang berarti untuknya. Namun sampai detik ini tak ada keberanian dariku untuk sekedar berkenalan dengannya. Aku telah terjatuh dalam lubang cinta yang sangat dalam, merasakan getaran cinta yang semakin hari semakin menggelora. Seringkali ku mencoba berusaha melupakannya, namun semakin ku mencoba melupakan semakin kuat rasa ingin memiliki seseorang seseorang yang selama ini meluluhkanku. Hingga ada seseorang yang berusaha mendekatiku, dia adalah johan sahabat ku sejak smp. Perhatian dan kasih sayang selalu dia curahkan untuk ku, saat ini dia melanjutkan sekolah di sman 1 di kotaku. Dia anaknya pandai dan tampan, awalnya aku menganggap perhatian dan kasih sayangnya selama ini sebagai bentuk persahabatan. Karena selama ini kami berdua selalu bersama ketika di luar jam sekolah, baik itu saat jalan atau sekedar nongkrong bareng. Karena sekolah kita berbeda jadi hanya bisa ketemu pada saat weekend aja. Suatu hari dia mengajak ku pergi di sebuah pantai, pantai itu merupakan pantai favorit kami jika lagi jenuh atau sekedar refreshing ketika libur sekolah. Cuaca hari itu sangat panas, matahari yang terik membaut kami bercucuran keringat. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk duduk di bawah pohon kelapa yang rindang, di temani hembusan angin membuat cuaca sedikit lebih sejuk.
“Nay, haus gak?” tanya johan.
“Iya, haus banget. Cuaca sangat panas gak kayak bisanya” jawabku sambil mengusap tetesan keringat yang keluar dari pori-pori tubuh ku.
“Yasudah, tunggu sini bentar ya” ujarnya sambil beranjak entah keman.
“Kamu mau kemana?” tanya ku dengan nada penasaran. Namun johan tak menjawabnya, dan terus berjalan meninggalkan ku. Lama menunuggu membuatku jenuh, saat aku akan mau beranjak tiba tiba johan datang dengan membawa 2 gelas es kelapa muda. Dan langsung menyodorkan satu gelas untuk ku.
“Wah... kok kamu tahu sih daritadi aku pengin es kelapa muda. Thanks ya...” ujar ku sambil terseyum menerima minuman pemberiannya.
“Ya dong. Aku gitu. Pasti tahu apa yang ada fikiranmu” jawabnya sambil minum es nya.

Aku duduk disampingnya sambil menikmati minuman di bawah pohon dan di temani semilir angin yang berhembus, menikmati suasana pantai yang begitu terik dan pemandangan ombak yang sangat indah siang itu. Dalam hati aku berkata “Andai orang yang ada di samping ku adalah nofi, sungguh bahagianya aku”. kembali aku larut dalam lamunannya, hingga tak sadar bahwa ada seseorang disamping ku yang daritadi tak sedikitpun ku ajak berbicara.
“Nay, kamu kenapa kok melamun?” tanya johan seketika itu ku tersadar dalam lamunan.
“Ah... enggak kok. Cuma lagi menikmati suasana” jawabku sambil menimati es kelaoa muda di tengah panasanya sang mentari.
Saat sedang asyik menikmati es, tiba-tiba johan meletakkan gelas yang di genggamnya dan menghadap kepadaku.
“Nay, aku boleh ngomong sesuatu gak?” tanyanya dengan wajah yang serius.
“Mau ngomong apa, kok serius banget. Biasa aja keles” Jawabku dengan nada bercanda seraya menaruh gelas di samping ku.
“Aku serius nol, tapi jangan marah ya” jawabnya, tiba-tiba dia memegang tangan ku, menatapku tajam, seakan kata-kata yang akan diungkapkan begitu serius.
“Iya, mau ngomong apa. Aku gak marah kok, dan kenapa kok pake acara megang tangan ku segala? Gak enak dilihat orang lain” jawab ku, seraya ku lepaskan genggamannya dari tangan ku.
“Saat pertama kenal denganmu, aku meraskaan ada getaran cinta dalam hatiku, hari-hari yang ku lalui begitu indah bersama mu. Mungkin inilah waktu yang tepat untukku mengatakan perasaan yang selama ini ku pendam, dan tak sanggup ku menahannya. Mau gak kamu jadi pacarku?” Tanyanya kembali, sembari menggenggam tangan ku lebih erat.
“Brrraaaakkkkk!!!!” bak disambar petir di siang bolong, aku terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir manisnya. Dalam hati aku berkata, aku harus jawab apa? Aku tak ingin melihatnya bersedih karena ku, di sisi lain ada sosok nofi yang sudah membuatku jatuh hati walau hingga kini aku belum bisa mendapatkannya. Tak sanggup ku menjawab semua ini, johan yang selama ini ku anggap sebagai sahabatku ternyata memiliki rasa cinta kepadaku, dan sekarang dia menyatakannya. Aku hanya bisa terdiam dan membisu, ingin sekali ku beranjak dari kenyataan ini namun lagi-lagi ku tak sanggup.
“Nay, kok diem. Jawab dong” tanyanya seraya membuayarkan lmunan ku.
“Jo” Panggil ku. Ya hanya sekata yang dapat terlontar dari mulutku, tak terasa setetes air mata mengalir dari mata ku.
“Kenapa nay? Kok nangis? Apa ada kata-kata ku yang menyinggung perasaan mu?” kembali ia bertanya sambil mengusap air mata dari pipi ku.
“Kamu gak salah kok, dan aku gak tersinggung dengan kata-kata mu” jawabku sambil mengusap air mata yang keluar dari mata ku.
“Lantas gimana, bisa gak?” tak sabar ia menunggu jawaban dari ku.
“Jo, terima kasih atas perhatian dan kasih sayangnya selama ini, terima kasih sudah jujur dengan ku. Tapi jo, aku bener-bener minta maaf karena belum bisa membalas kaih sayang mu selama ini, dan maaf aku gak bisa jadi pacarmu” jawabku sambil menangis karena takut ia tersakiti dengan kata-kata ku.
“Kenapa nay, apa ada seseorang yang sudah mengisi hatimu?” tanyanya dengan wajah yang sedih.
“Belum jo, Cuma ada seseorang yang telah meululuh lantahkan ku, dia teman sekolah ku. Tapi aku sangat mencintainya” jawab ku.
“oh..” Cuma kata itu yang keluar dari mulutnya.
“Jo, kamu marah ya? Maaf ya jo, walau kita gak bisa bersatu kamu tetap spesial di hatiku kok, sebagai sahabat. Dan kita bisa jalan seperti biasa.” Ujarku sambil menyakinkan dia.
“Gak kok nay, aku gak marah. Aku ngerti perasaan mu kok, thank’s ya udah jadikan aku yang spesial walau hanya sahabat. Aku bisa nerima ini semua, udah ya nay jangan menangis. Ayo pulang udah mau sore” ajaknya sambil berdiri dan bergegas pulang.
Selama perjalanan ia menggandeng tangan ku sangat erat, seakan tak ingin kehilangan ku. Mengusap air mata yang masih mengalir, membuatku nyaman berada di sampingnya, namun apa daya hati ini sudah terlanjur jatuh hati kepada sosok seperti nofi. “Andai saja sosok nofi belum ada dihatiku, pasti aku akan menerima mu jo” gumam ku dalam hati, seakan meratapi penyesalan yang ada. Semenjak kejadian itu persahabatan ku dengannya semakin erat, saat dia selalu ada buat ku. Saat ku terpuruk dia datang sebagai sosok yang membangkitkan, walau hubungan kami sebatas sahabat namun perhatiannya melebihi sebatas sahabat. Dan dia berusaha membantuku untuk mendapatkan nofi, aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti johan karena bisa mengerti perasaan ku. Dan mulai saat  itu aku tak canggung lagi bercerita tentang nofi kepada johan, baik ketika sharing atau menunjukan langsung siapa nofi saat johan menjemputku pulang sekolah.
Suatu hari saat aku pulang sekolah ku menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu, sambil nunggu jemputan dari abah. Selesai sholat aku duduk duduk di depan mushola, aku terkejut ketika melihat seorang cowok keluar dari mushola langsung duduk di samping ku dan dia adalah nofi. Begitu bahagianya aku karena aku bisa duduk bersebelahan dengannya, dalam hati ku berharap dia mengajak ku ngobrol. Tanpa disangka dia tiba-tiba mengajak ku berbicara.
“Heiy” dia seketika menyapa ku.
“Heiy...juga” dengan senang hati ku menjawabnya.
“Nama kamu siapa? Kamu anak ips bukan?” tanyanya sambil mengajakku berkenalan.
“Nama ku Nayla. Kalau kamu? Iya aku anak ips, memang kenapa?” jawabku seraya bersalaman dengannya.
“Aku nofi, oh gak papa kok Cuma tanya aja, tumben belom pulang? Mau belajar kelompok ya?” ujarnya.
“Gak kok, lagi nunggu jemputan dari abah” jawab ku dengan sedikit canggung.

Lama sekali ngobrol dengannya tiba-tiba hp ku berbunyi dan ternyata sms dari abah, abah bilang kalau hari ini gak bisa jemput karena ada urusan mendadak di kantornya. Seketika itu aku bingung pulang dengan siapa, karena cuaca siang itu berubah menjadi kelabu seakan pertanda akan hujan lebat. Aku berusaha menghubungi johan, tapi dia gak bisa jemput karena ada eskul basket di sekolahnya. Begitupun yofa, dia ada acara di rumah saudaranya.
“Kenapa nay kok kelihatannya kamu bingung?” tanya nofi dengan penuh perhatian.
“Ini nof, rencananya aku tadi di jemput abah tapi abah gak bisa jemput, minta tolong teman-teman juga pada gak bisa. Mana mau hujan lagi” jawab ku dengan nada sedikit kebingungan.
“Rumahmu mana nay? Nanti aku antar pulang deh” kembali ia berkata sambil menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
“Gak usah deh nof, entar ngerepoti kamu. Aku bisa kok naik angkot” jawab ku dengan sedikit menolak karena gak ingin merepotkannya.
“Udah gak papa kok lagian aku gak merasa di repotkan kok, santai aja” jawabnya seketika itu pula dia mengajak ku pulang karena takut nanti keburu turun hujan. Hatiku sangat bahagia karena ini pertama kalinya aku bisa jalan berdua dengannya, apalagi dia adalah sosok yang selama ini ku kagumi.

Di tengah perjalanan rintikan air mulai turun dan kami tetap saja melanjutkan perjalanan, di separuh perjalanan kami hujan lebat mengguyur. Nofi memutuskan berteduh di sebuah bangunan bekas warung kopi, disana kami berteduh dengan kondisi badan basah kuyup. Saat itu nofi meminta ijin kepadaku untuk keluar sebentar, aku tak tahu dia kemana. Dia terus saja berjalan kaki dengan memakai helm di kepalanya, saat itu pula aku mulai merasa kedinginan karena sesungguhnya aku alergi dengan hawa dingin. Badan ku menggigil tak karuan apalagi aku tak membawa jaket, tak lama berselang nofi datang sambil membawa sebungkus minuman. Ternyata minuman itu adalah teh hangat yang dia belinya di warung yang tak jauh tempat kami berteduh, dengan wajah panik dia mencoba menghangatkan badan ku dengan memakaikan jaket miliknya. Dan memberi teh hangat untuk ku, tak cukup sampai di situ dia berusaha menghilangkan rasa dingin yang ada di badan ku dengan memeluk ku. Kala itu aku benar benar terhanyut dalam suasana, sosok yang selama ini ku kagumi saat ini berada di pelukanku. Pelukan hangat darinya membuatku semakin jatuh hati, dalam hati ku berkata “Ya rabb jadikan dia imam ku kelak”, ya... hanya itu keingina dan angan ku disetiap ku menengadah pada sang kuasa. Di saat ku menjalankan setiap raka’at demi raka’at perintah-Nya, karena sesungguhnya aku yakin Dia sang pemilik segalanya. Saat hujan mulai reda nofi mengantarku pulang kerumah, dengan hati-hati dia menuntunku untuk naik di kendaraan miliknya. Sesampainya dirumah dia menemui abah dan meminta maaf karena terlambat mengantarku, dan abah pun tidak mempersalahkan karena kondisi hujan yang tak kunjung reda. Saat itu dia menuntunku ke kamar untuk beristirahat karena dia tak ingin melihatku semakin parah, di kamar aku langsung tidur di atas kasur kesayangan ku dan dia menyelimuti dengan selimut yang ada agar aku tak semakin kedinginan. Seketika itu pula dia minta ijin untuk pamit pulang.
“Aku balik dulu ya nay” ujarnya sambil menyelimuti ku.
“Iya, hati-hati dijalan ya nof. Maaf sudah merepotkanmu” jawab ku dengan sedikit menggigil.
“Aku gak merasa di repotkan kok, yasudah cepat sembuh ya. Assalamualaikum” sanggahnya sembari berjalan menuju pintu.
“Walaikumsalam” jawab ku.
Semenjak itu hubungan ku dengannya menjadi akrab, aku semakin nyaman jika berada di sampingnya. Kini johan tak lagi menjemputku pulang, karena sudah ada nofi yang selalu mengantarku untuk pulang. Hatiku semakin bahagia ketika ku bertanya sosok retha yang selalu berada disampingnya, ternyata bukan kekasihnya dia hanya sekedar teman dekat apalagi mereka satu organisasi. Hari-hari ku selalu dihiasi kebahagiaan, hingga mendekati ujian kami berdua selalu belajar bersama. Walau kita beda jurusan tapi kami saling membantu satu sama lain, dan waktu ujian pun tiba kami berdua sepakat untuk tidak berkomunikasi sementara karena saling fokus ujian masing-masing. Ini adalah saat-saat menyedihkan bagiku karena sebentar lagi aku tak akan mungkin bertemu dengannya lagi, karena dia akan melanjutkan ke perguruan tinggi impiannya dan aku juga melanjutkan ke perguruan tinggi impian ku. Ingin sekali ku ungkapkan perasaan yang selama ini kurasakan, namun aku menunggu waktu yang tepat untuk melakukan itu semua. Perpisahan, ya mungkin itu waktu yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ku rasakan.

Waktu yang ku tunggu pun tiba dimana acara perpisahan di sekolahku di mulai, pagi itu aku datang mengguanakan kebaya putih dengan bawahan jarik coklat buatan umi ku. Saat ku memasuki halaman sekolah yang ku cari pertama adalah nofi, aku tak menemuinya pagi itu apakah dia tak datang? Aku sendiri tak tahu. Aku berjalan di kelas ku dan kutemui yofa dkk di depan kelas.
“Hay... nay, cantik banget kamu hari ini” pujinya sambil mencium pipi ku.
“Ah... kamu ini bisa aja” sangkal ku.
“Ya,, nay, bentar lagi kita bakal berpisah, aku pasti merindukanmu” ujarnya dengan nada sedih seketika itu memeluk ku.
“Ngomong apa sih, kita masih bisa bertemu kok. Aku pasti juga merindukan mu bawel” jawab ku dengan mencubit pipinya yang tembem.
Pandangan ku tak henti-hentinya melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari nofi yang belum kelihatan batang hidungnya, dan saat aku melihat ke arah mushola aku melihat seorang cowok yang kelaur dari dalam mushola. Dia menggunakan kemeja putih, jas hitam, celana hitam, dan dasi berwarna hijau. Dia begitu manis dan gagah, nofi... itu lah cowok yang keluar dari dalam mushola. Hari ini dia begitu sempurna bagi ku, dengan wajah yang selalu tersenyum membuatnya semakin sempurna. Hari ini ku beranikan diri untuk mengungkapkan isi hati ku kepadanya, dan aku berharap dia membalas perasaan ku selama ini. Rangkaian acara perpisahan usai dan aku mengabadikan hari itu dengan teman-teman ku, setelah puas aku putuskan untuk mencari nofi. Aku menemuinya di depan kelasnya, awalnya ku ucapkan selamat karena dia sudah lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan dia membalasnya dengan memberi ku selamat atas keberhasilannya dengan nilai yang memuaskan pula, saat asyik ngobrol muncul di benak ku untuk mengungkapkannya sekarang karena aku tak ingin membuang kesempatan apalagi bentar lagi akan berpisah dengannya.
“Nof, aku boleh ngomong sesuatu” seketika itu aku memulai percakapan.
“Mau ngomong apa nay?” tanya nofi dengan nada penasaran.
“Sebenarnya selama ini aku mencintaimu nof, mau kah kamu jadi pendampingku?” Tanya ku dengan nada sedikit grogi.
“Apa? Bisa aja kamu ini nay” jawabnya dengan nada bercanda.
“Aku serius nof” kembali ku menyakinkannya.
“Nayla, aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa cinta sama kamu. Maaf aku belum bisa nay” jawabnya dengan nada lirih.
Mendengar jawaban itu hatiku kembali hancur, tak kuasa aku mendengarnya, dan tak sanggup aku menahan air mata yang membasahi pipi ku. Ingin keluar dari kenyataan ini namun aku tak sanggup, seakan aku terperangkap dalam sebuah ruang hampa yang ingin keluar namun tak cukup tenaga untuk keluar dari pintu itu. Semakin deras air mata yang mengalir di pipi ku, semakin hancur perasaan ku ketika jawaban darinya.
“Nay, kamu kenapa? Kok nangis? Maafin aku nay. Ketahuilah nay kalau kita jodoh suatu saat Allah akan mempertemukan kita dalam ikatan suci kok” ujarnya sambil memeluk ku.
Kini ku menangis dalam pelukannya membayangkan suatu saat aku tak lagi bertemu dengannya, namun perasaan ku menggebuh ingin selalu bersamanya. Aku tak sanggup hanya itu yang bisa ku katakan dalam hati. Berpisah dengan orang yan kusayang, orang yang selama ini ku kagumi. Orang yang selalu memberi perhatian dengan pelukan hangatnya, semua itu akan selalu ku kenang, akan selalu ku simpan dalam memori indah ku. Dan akhirnya aku berusaha untuk menerima semua ini, menerima kenyataan yang ada. Kata-kata nya terakhir membuat ku semakin kuat dan tegar untuk tetap berusaha dan berdoa, semoga kelak aku bisa bertemu dengannya kembali. Bertemu dengan sosok nofi yang selama ini ku kagumi namun tak bisa ku miliki saat ini, dan aku berharap bisa memilikinya suatu hari nanti ketika mengucap janji suci.
   
Previous
This is the oldest page

2 komentar

Click here for komentar
Unknown
admin
4 Februari 2015 pukul 03.07 ×

tulisannya keren mas. kunjungan balik ke http://this-ismind.blogspot.com/2015/02/model-untuk-pengembangan-perangkat.html di tunggu ya ,terima kasih

Reply
avatar
Thanks for your comment