Hari ini
sangat melelahkan bagiku karena banyak sekali tugas kampus yang diberikan dosen,
dan harus dikumpulkan esok karena sebentar lagi aku akan menjalani ujian akhir
semester. Aku sendiri masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Abu
Bakar program S1 jurusan Bahasa Arab, awalnya setelah lulus dari pondok
pesantren Al-Ikhlas aku mencoba untuk tes di Universitas Al-Azhar di Kairo,
Mesir. Namun kala itu aku belum beruntung dan akhirnya memilih di universitas
abu bakar mengambil jurusan bahasa arab.
Saat
sedang santai di pelataran kampus handphoneku berbunyi ternyata temanku
bernama annas mengirim pesan, yang isinya bahwa nanti setelah sholat tarawih di
musholaku ada acara khatmil Qur’an atau khataman AL-Quran. Setelah mendengar
bahwa akan ada acara tersebut aku bergegas pulang, apalagi waktu juga mendekati
akan buka puasa. Setelah sholat maghrib aku bergegas ke ruang makan untuk
berbuka puasa bersama keluarga, dalam hati aku berkata “sungguh karunia Allah
yang tiada tara karena masih di beri kesempatan melaksanakan wajib dan
sunnahnya bersama keluarga tercinta”.
“Udah
sholat nak?” tanya abi.
“Sudah
bi” jawab ku sambil mengambil air minum.
“Gimana,
kuliahmu. Apa ada kesulitan?” tanya umi sembari menyodorkan sepiring nasi
untuk ku.
“Alhamdulillah
lancar mi, walau banyak tugas kampus yang harus dikumpulkan. Ngomong-ngomong
kakak kemana mi?” Jawabku sambil bertanya kemana kakak tertua ku, biasanya dia
yang menyiapkan hidangan buka puasa.
“Kakakmu ke pesantren di mintai tolong sama ustadzah nisa untuk membantu
mempersiapkan acara buka bersama dan acara yasinan, memperingati 1000 harinya
Ustadz Hadi” ujar abi.
Setelah
berbuka aku langsung berangkat ke mushola mempersiapkan tempat untuk sholat
isya dan tarawih, kebetulan mushola di tempat ku sedang di renovasi jadi harus
mempersiapkan tikar dan terpal untuk tempat sholat. Karena di dalam mushola
tidak mencukupi untuk menampung jamaah, terpaksa melaksanakan sholat di luar
mushola. Saat itu aku kebagian tugas untuk menjadi bilal sholat tarawih, karena
teman ku sesama remaja mushola yang bertugas hari ini berhalangan hadir. Jadi
aku di tunjuk ketua ta’mir untuk menjadi bilal, sebenarnya ada teman ku annas
tapi dia menolak.
Seperti
biasa setelah sholat tarwih aku dan teman ku sesama remaja mushola langsung menyiapkan
meja dan Al’Quran untuk tadarus, kebetulan hari ini ada khatmil Quran membuat
kami semua mengeluarkan tenaga ekstra untuk mempersiapkan. Saat tadarus akan di
mulai ustadz hari menyuruhku untuk membaca pertama kali, ayat demi ayat
kulantunkan dengan teman-teman menyimak membuat suasana semakin tentram. Suara
lantunan ayat suci seakan memberi kesejukan dalam fikiran dan jiwa ku, setelah
ku baca beberapa ayat kini giliran annas yang membaca dan aku menyimaknya.
Annas karibku terkenal fasih sejak kecil dia pandai baca Al-Quran, saat sekolah
dasar dia selalu juara dalam lomba baca Al-Quran. Kami berdua akrab sejak kecil
saat sekolah dasar aku dan dia selalu satu kelas, bahkan saat lulus SMP aku
kembali bertemu dengannya saat masuk di pondok pesantren Al-Ikhlas.
Saat
sedang fokus menyimak ayat yang dibacakan annas aku terkagum saat mendengar
suara merdu sedang melantunkan ayat suci juga, aku semakin tidak fokus karena
suara itu semakin lama semakin merdu. Membuatku semakin penasaran siapakah
pemilik suara merdu itu? Awalnya aku mengira itu suara fitriah, temanku pondok
namun setelah aku dengarkan kembali ternyata bukan. Saat annas selesai membaca
suara itu masih berkumandang, aku penasaran mencoba bertanya kepada dia.
“Gus,
apa kau tahu siapa pemilik suara merdu itu?” tanya ku, kami selalu menggil satu
sama lain dengan sebutan gus, gus merupakan panggilan untuk seorang ulama yang
ilmunya tinggi. Sejak di pesantren kami berdua selalu mengkhayal untuk menjadi
seorang gus, hingga saat ini panggilan itu melekat walau sebenarnya ilmu kami
belum seperti gus gus pada umumnya. Hehehe.
“Oh...
itu suara fitriah kali” jawabnya dengan mudah.
“Bukan,
aku paham betul suara fitriah. Ini bukan suara fitriah, coba dengarkan dengan
lebih fokus” kembali ku menyakinkannya.
“Iya
ya... ini bukan suara fitriah. Lantas kalau bukan fitriah siapa?” tanya annas
kepadaku.
“Aku
sendiri juga gak tahu, suaranya begitu merdu. Aku terkagum” jawab ku.
“Berhubung
ane gak tahu, coba ente nanti setelah khataman tanya ke fitriah, dia kan juga
ikut tadarus jadi mungkin dia tahu siapa pemilik suara merdu yang sudah membuat
ente terkagum” ujarnya, lalu aku membalasnya dengan anggukan dan senyum.
Setelah
acara khataman selesai aku langsung membereskan meja dan menata kembali
Al-Quran di tempatnya, kemudian membersihkan mushola yang baru saja di pakai
khataman. Ketika semua pekerjaan pekerjaan selesai aku langsung mencari fitriah
temanku, ternyata dia sedang di belakang membantu ibu-ibu yang merapikan
mukenah yang ada di mushola. Saat tahu ada aku di situ fitriah memerintahkan ku
untuk pergi, dan dia berjanji akan menemui ketika selesai merapikan mukenah.
Saat setelah merapikan mukenah dia menepati janjinya, dia menemui ku di
pelataran mushola saat aku sedang santai bersama annas dan beberapa teman ku.
Saat menemui dia minta langsung ngomong to the point karena dia buru-buru
pulang, soalanya banyak tugas kampusnya yang belum terselesaikan. Akhirnya aku
tanya siapa pemilik suara merdu saat melantunkan ayat suci tadi, dia tahu siapa
pemilik suara merdu itu berhubung dia buru-buru fitriah berjanji akan
memberitahukanku besok saat tadarus. Saat tadarus aku menagih janji yang di ucapkan
fitriah, dia memberitahuku bahwa pemilik suara merdu adalah annisa az-zahra.
Aku semakin penasaran siapa dia karena selama ini tidak ada nama tersebut di
kampungku, aku semakin penasaran dengan seseorang yang bernama zahra. Akhirnya
aku coba kembali minta tolong ke fitriah untuk menunjukan yang mana anak
bernama annisa, dia menunjukan kepada ku dan aku terpanah melihatnya. “subhanallah”
itulah kata yang keluar pertama kali dari mulutku, sungguh aku kagum dengannya
dengan menggunakan baju putih di balut jilbab biru menutupi auratnya. Seketika
itu juga kuberanikan diri untuk menghampirinya dan berkenalan dengannya, dengan
setengah gugup aku mencoba berkenalan dengannya.
“Assalamualaikum”
sapaku dengan sedikit gugup.
“Walaikumsalam”
jawabnya dengan lembut.
“Sebelumnya
kenalkan saya Muhammad Ibrahim, panggil saja ibrahim. Kalau boleh tahu ukhti
anak barukah disini?” tanya ku.
“Oh...
iya, nama ku Annisa Az-Zahra panggil saja zahra. Iya ikhwan, saya anak baru.
Kenapa ikhwan?” Jawabnya kemudian bertanya kepadaku.
“Oh..
gpp kg, Cuma mau nawarin aja dimushola kami ada yang namanya remaja mushola,
mungkin bersedia untuk gabung bersama organisasi. Kalau pengen gabung, boleh
gak minta nomer hpnya ukhti. Untuk memberi informasi semisal kalau ada rapat
atau kegiatan lain” ujarku seraya menyodorkan handphone yang ada di
genggamanku.
“oke deh
aku mau gabung” jawabnya sambil menyerahkan hp ku kembali.
Sejak
saat itu aku selalu komunikasi dengan dia apalagi semenjak dia gabung ganti
kepengurusan, dan dia di tunjuk oleh ta’mir mushola sebagai sekertaris. karena
teman ku fatimah yang awalnya menjabat sekertaris mengundurkan diri, dia fokus
dengan skripsinya fatimah masih tercatat sebagai mahasiswa semester 7 di
universitas islam abu bakar jurusan pendidikan islam. Aku sendiri di tunjuk
sebagai ketua remaja mushola dan ini kali kedua aku menjabat sebagai ketua,
dalam hati aku bangga karena bisa kembali mimpin organisasi di mushola ku dan
di sisi lain aku bangga karena aku bisa lebih dekat dengan dengan zahra orang
yang selama ini ku kagumi dengan suara merdunya. Aku semakin dekat dengan zahra
baik komunikasi selular atau main langsung ke rumahnya, zahra sendiri baru
lulus dari pondok pesantren sekaligus universitas miftachul jannah program S1
jurusan Pendidikan agama. Dan sekarang dia mengajar di Mts.Miftachul Jannah
tempat ia dulu menimbah ilmu, dan kini hubungan ku dengannya semakin akrab
bahkan aku mulai kenal dan akrab dengan abah umi nya. Akupun merasa getaran
cinta yang ku rasa semakin tinggi, ingin rasanya aku mengungkapkan namun aku
takut. Akhirnya aku mencoba menahannya walau terkadang ingin mengungkapkan, dan
aku fokus dengan pendidikan ku yang dipenuhi dengan tugas kampus. Hari-hari ku
jalani penuh dengan kebahagiaan, zahra selalu menyemangati ku untuk giat
belajar agar cepat lulus kuliah. Dan aku semakin semangat menjalani pendidikanku,
hingga tak terasa aku sudah semester 7 dimana aku harus menyelesaikan skripsiku.
Saat mengerjakan skripsi aku tak segan-segan bertanya dengan zahra, walau dia lebih
tua satu tahun dariku. Namun aku selalu minta bantuan jika mengalami kesulitan,
dan zahra pun dengan senang hati membantuku. Dia dengan sabar membantuku
menyelesaikan tugas skripsiku, terkadang dia juga tak segan datang ke rumahku.
Karena seringya dia datang ke rumah sehingga dia mulai akrab dengan orang tua
ku, aku semakin nyaman dekat dengannya dan hubungan kami dapat dikatakan lebih
dari seorang teman.
Suatu
ketika aku berkunjung ke rumah annas dan bercertia tentang apa yang aku rasakan
saat ini, karena sungguh aku tak kuat menahan perasaan ini semua. Saat di
rumahnya aku bercerita tentang zahra dan perasaan ku, dan aku minta saran
darinya karena selama ini annas lah yang tahu persis tentang ku karena kami
beruda sudah akrab sejak kecil.
”Apa
yang harus ku lakukan gus?” tanya ku.
“Apakah
kau benar-benar mencintainya, apa yang membuat kau jatuh cinta dengannya?”
ujarnya sembari menatap ku dengan tajam.
“Aku
benar-benar mencintainya gus, dan ana uhibbukki fillah gus. Mencintainya karena
allah semata bukan karena menuruti nafsu atau apapun” jawab ku sambil
meyakinkan dia.
“Ketahauilah
karibku kau mencintainya boleh, jangan sampai cintamu kepada zahra melebihi
cintamu kepada sang pemilik cinta sesungguhnya. di dunia ini tidak ada cinta
yang hakiki, maka dari itu jangan terbutakan oleh cinta. Saranku istikharalah,
berdoa yang terbaik jangan sampai kau terjerumus” jelasnya, mendengar kalimat
demi kalimat yang keluar dari mulutnya membuat ku berfikir seribu kali, karena
aku tak ingin terjerumus atau terjatuh di pilihan yang salah.
“Syukron
gus, gak salah aku memiliki teman
sepertimu. Semoga kau berjodoh dengan fitriah” sahut ku dengan tertawa keras.
“Afwan,
kau ini dari kecil sampai sekarang gak ada bedanya, bisanya gosip aj. Ya kalau
emang jodoh gak ada masalah sih biar gak jauh jauh cari jodoh” jawabnya dan
kami spontas tertawa semakin keras. Hingga larut malam aku masih ada di rumah
annas, sekitar jam 12.00 wib aku pamit untuk pulang karena esoknya aku ada
janji sama dosen pembimbing untuk melaksanakan bimbingan skripsi. Semenjak saat
itu aku selalu bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat istikharah, dan
selalu menyelipkan namanya disetiap ku menghadap sang maha kuasa dalam
melaksanakan setiap raka’atnya. Sungguh aku ingin menjadi pendampingnya yang
halal dan tak ingin terjerumus dalam nafsu syetan, kata-kata itulah yang selalu
aku panjatkan kepada sang pemilik cinta. Saat malam tiba setelah sholat isya
aku bergegas ke rumah zahra, kali ini bukan untuk mengerjakan skripsi melainkan
sekedar main aj karena malam ini malam minggu. Hari ini aku kembali terkagum
melihatnya, menggunakan baju gamis warna putih menggunakan jilbab biru sebagai
mahkota penutup auratnya. Aku begitu terpesona melihatnya tak biasanya dia
dandan secantik ini,wajahnya seakan memancarkan sinar terang “Subhanallah,
sungguh cantik bidadari di depan ku ini” aku bergumam dalam hati.
“Asslamualaikum”
sapanya, searaya membuyarkan lamunan ku.
“Wa..alaikumsalam”
jawab ku dengan nada gugup karena terpesona melihatnya.
“Kenapa
ikhwan gak biasanya melamun kayak gitu?” ujarnya dengan sedikit penasaran.
“ehm..
gak ada apa apa kok” jawab ku mengalihkan pembicaraan.
Padahal
ingin sekali ku katakan “kau nampak anggun zahra, bagai bidadari yang
turun dari jannah-Nya” namun aku takut dia marah kalau terlalu dipuji, karena
selama ini dia tidak suka di puji berlebihan. Dia tipe wanita yang natural dan
tak suka di puji berlebihan, baginya cantik atau jelek itu relatif. yang ada
hanya seorang wanita yang beriman kepada Allah dan selalu menutup auratnya di
depan laki-laki yang bukan mukhrimnya, agar kehormatan seorang wanita tidak
ternodai oleh pandangan laki-laki. Itulah kenapa selama ini zahra tidak pernah
dandan berlebihan, karena bagi dia kecantikan dan kesempurnaan hanyan milik
Allah semata. Sejak saat itulah aku semakin mencintainya, mencintai bukan
karena harta,tahta, atau rupa. Melainkan mencintai dengan sebenar-benarnya
cinta karena Allah ta’ala, dan berharap kelak Allah bisa menyatukan ku
dengannya dalam ikatan suci untuk melengkapi separuh agamaku. Lama ngobrol
dengannya tak terasa hingga larut dengannya dan aku pun segera bergegas untuk
pamit pulang, sebelum pulang aku sempat menawari zahra untuk ikut ziara kubur ke makam sunan ampel dan dia menyetujuinya. Aku pulang dengan perasaan bangga
karena esok akan jalan bersama bidadari surga, tak sabar rasanya menunggu hari
esok untuk berzirah bersamanya di tempat suci. Keesokannya aku merasa canggung
untuk keluar hanya bersamanya, akhirnya ku putuskan untuk mengajak annas dan
fitriah. Dan mereka berdua bersedia untuk ikut ziarah kubur, kami berempat
berangkat ba’da ashar dengan menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan aku
kembali bercerita kepada annas tentang perasaan ku yang semakin hari semakin
ingin memiliknya, kebetulan saat itu aku berboncengan bersama annas karena
zahra lebih nyaman berangkat bersama fitriah. Namun karibku yang satu ini
menyuruh ku untuk sabar dan selalu bermunajat kepada Allah, jangan sampai aku
salah melangkah dan berujung dengan penyesalan.
Hari-hari
ku di isi dengan revisi skripsi dari dosen apalagi dosen memberikanku deadline
hingga minggu depan untuk menyelesaikan skripsi, sejak saat itu aku jarang
sekali ketemu dengan zahra. Memang sengaja aku tidak menghubunginya atau
sekedar berkunjung di rumahnya, karena aku ingin fokus menyelesaikan revisi
skripsi dari dosen dan segera lulus. Dan ternyata saat ini zahra sedang pulang
ke kampung halamannya di aceh, karena sudah lama dia tak mengunjungi kampung
halamannya dan salah satu saudaranya ada yang sakit. Aku mendapat info dari
fitriah ketika aku bertemu dengannya di mushola, dia bilang ingin berpamitan
dengan ku tapi dia takut ganggu waktu ku yang saat ini sedang sibuk
menyelesaikan skripsi. Memang ada perasaan kangen karena sekian lama tidak
ketemu dengannya, apalagi tak ada kabar darinya aku sempat khawatir dengan
kondisinya. Saat sedang sibuk mengerjakan skripsi dirumah dan saat itu aku
sendirian di rumah, karena abi, umi, dan kakak ku sedang ke Gresik karena ada
hajatan di rumah saudara, memang aku sengaja tidak ikut karena menyelesaikan
skripsi ku dan orang tua ku tidak mempermasalahkan. Tiba-tiba ada tukang pos
datang dan memberikan sepucuk surat, aku terkejut ketika menerimanya karena
selama ini jarang ada kiriman surat untuk ku atau keluarga ku. Karena rasa
penasaran ku yang tinggi akan surat itu kuputuskan untuk langsung membukanya
tanpa nunggu abi,umi, kakak pulang, saat membukanya aku terkejut karena surat
yang ku terima ternyata dari Annisa Az-Zahra segera ku buka dan membaca isinya.
“ Assalamualaikum wr.wb
Apa
kabar ikhwan? Semoga ikhwan selalu dalam lindungan sang khaliq.
Oiya,
aku udah nyampai aceh nih, setelah berhari-hari menempuh perjalanan dengan kapal laut,
karena gak dapat tiket pesawat. Hehehehehe. Maaf ya saat berangkat ke aceh
zahra gak sempat pamit atau memberi kabar, karena waktu iku zahra pikir ikhwan
sibuk dengan skripsinya. Ngomong-ngomong gimana skripsinya? Kapan nih sidang?
Ciye yang mau wisuda. Maaf ya ikhwan mungkin zahra gak bisa komunikasi setiap
hari, karena handphone zahra tertinggal di rumah, jadi ya cuma bisa kirim surat
ini. Hehehehe. Ikhwan mungki zahra agak lama disini karena saudara abi ada yang
sakit dan yang sakit itu suaminya sedang menunaikan ibadah haji bersama
anaknya, jadi zahra dan keluarga dapat amanah untuk menjaga sampai suaminya
pulang dari tanah suci. Udah dulu ya ikhwan, maaf gak bisa lama. Semoga ikhwan
cepat kelar deh skripsinya, biar bisa menggunakan baju toga. Heheheh tapi
ingat, jangan sampai kesibukan skripsi ikhwan membuat ikhwan lupa dengan setiap
raka’at-Nya, jangan lupa sholat dan puasa ya ikhwan. Salam buat abi, umi, sama
kak nayla. Kalau sempet bales ya ikhwan. Hehehehe
Asslamualaikum.wr.wb
Dari karib mu : Annisa Az-Zahra “
Sepucuk surat darinya membuat ku merasa lega karena rasa rinduku akan dirinya sedikit terobati, apalagi dalam surat itu dia seakan menyemangati ku untuk segera menyelesaikan skripsi ku. Dan aku berniat membalas surat itu pada saat setelah sidang skripsi ku nanti. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan yang namanya sidang, walau sebenarnya masih belum yakin dengan apa yang ku kerjakan saat ini.
Yang di
tunggu-tunggu pun tiba dan aku akan menatap beberapa dosen dalam sidang ku,
pagi itu aku tidak seperti biasanya aku berangkat penuh semangat. Selama
perjalanan dari rumah ke kampus tak henti-hentinya aku bersholawat dalam hati,
dengan harapan ketika sidang nanti semua pertanyaan dosen dapat ku jawab dengan
baik. Karena sidang ini tahap akhir jadi harus berhasil karena kalau gagal aku
akan mengulanginya, gak bisa bayangkan kalau harus mengulanginya dari awal.
Sesampainya di kampus aku langsung menuju di ruangan sidang, ternyata disana
telah menunggu 3 dosen yang akan menguji ku hari ini. Jantungku berdetak
kenjang karena takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari dosen penguji,
keringat mulai bercucuran dan aku mulai merasakan hal yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Sekujur tubuh mulai gemetar kaku karena bagiku ini merupakan
penentu masa depan ku, jika ini gagal otomatis aku menunda kelulusan yang
selama ini ku impikan. Setelah beberapa jam sidang di depan dosen penguji, dan
beberapa pertanyaan dapat ku jawab. Dan akhirnya aku dinyatakan lulus, dan
tinggal menunggu jadwal wisuda ku. Sujud syukur kupersembahkan kepada Allah
karena di beri kelancaran dalam setiap rencana ku, setelah itu aku bergegas
pulang dengan wajah yang bahagia dan berniat membalas surat dari zahra. Di
rumah aku langsung mencari kertas dan pena untuk membalas surat dari zahra, dan
memberi kabar ke dia bahwa aku telah tuntas menyelesaikan study ku di
Universitas Abu Bakar.
“Walaikumsalam wr.wb
Alhamdulillah
kabar ku sehat, bagaimana denganmu uhkti? Aku harap selalu dalam lindungan sang
khaliq.
Iya
ukhti, aku baru tahu kalau ukhti ke aceh dapat info dari fitriah. Dia yang
memberitahuku kalau ukhti ke aceh. Iya waktu itu sibuk dengan skripsi, dan alhamdulillah
berkat bantuan ukhti skripsiku kelar dan aku dinyatakan lulus. Heheheh terima
kasih ya ukhti sudah membantuku.
Yah...
kok lama, jangan lama-lama ukhti. Heheheheh tapi gpp kok, ukhti jaga saudaranya
aja dulu sampai sembuh. Sampai kapanpun kedatanganmu ku tunggu. Jangan lupa
sholat juga ya ukhti, salam buat saudara ukhti yang sakit semoga Allah
senantiasa memberi kesembuhan dan kesehatan, salam buat abah dan umi ya ukhti.
Aku tunggu kedatangan mu. Maaf baru bisa balas suratnya, oiya kalau pulang jangan
lupa bawa oleh-oleh dari aceh ya ukhti. Hehehehehe
Assalamualaikum wr.wb
Yang
merindukanmu : Muhammad Ibrahim Al-farizi “
Setelah satu bulan tinggal di Aceh akhirnya zahra balik lagi ke Gresik, karena suami dari saudaranya yang sakit telah pulang dari tanah suci. Hatiku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengannya, setelah sekian lama menahan rindu tak bertemu dengannya. Kembali terkagum meihatnya dia semakin cantik dibalik jilbabnya, wajahnya penuh dengan aura kesucian dan cinta yang terselip dibalik jilbabnya. Aku ingin sekali mengkhitbahnya menjadikan dia kekasih ku yang halal sesuai syari’at-Nya, menjadi imam bagi zahra disetiap melaksanakan sunnah dan wajib-Nya hingga waktu tak sanggup lagi untuk berputar. Namun aku ragu karena dia begitu kuat agamanya, dan dia terlahir dari keluarga yang menomer satukan agama. Tak henti-hentinya aku bermunajat kepada Allah meminta petunjuk agar dimudahkan di setiap aku melangkah, dan berdoa agar kelak zahra dapat menjadi kekasih halal ku dalam naungan-Nya. Suatu ketika saat setelah sholat isya di mushola aku menemui zahra, aku ingin mengungkapkan apa yang ku rasakan selama ini. Dan aku siap jika nanti dia menolak ku dan aku berpendapat jika nanti aku ditolak berarti Allah belum menjodohkan ku dengannya, namun lagi-lagi aku tak sanggup mengungkapkannya. Suatu ketika aku mengajaknya untuk jalan-jalan, kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal perkuliahan karena tinggal nunggu waktu wisuda. Hari itu dia tampak begitu anggun dengan menggunakan baju putih, dengan jilbab biru yang menutup aurat. aku mengajaknya jalan-jalan di taman kota, menikmati indahnya bunga yang tumbuh mekar nan mewangi. Saat asyik ngobrol tiba-tiba adzan dhuhur berkumandang, akhirnya ku putuskan untuk melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu. Berhubung mushola di tempat itu kecil dan pengunjunga yang sholat melebihi kapasitas, akhirnya aku menyuruh zahra untuk sholat terlebih dahulu dan aku belekangan. Setelah sholat kami berdua kembali menikmati taman yang siang itu cukup asri, karena pepohonan yang rindang menutupi matahari yang terik siang itu. Aku berniat menyatakan perasaan ku kepada zahra karena aku tak ingin larut dalam cinta yang semu, walau nanti akhirnya dia menolak ku aku pun siap menjadi sahabatnya.
“Ukhti
boleh tanya sesuatu?” aku coba bertanya kepadanya.
“Iya
ikhwan boleh, tanya apa?” Jawabnya dengan lembut.
“Apa
sudah ada seseorang yang mengkhitbahmu ukhti?” Kembali aku bertanya.
“Kenapa
ikhwan? Kalau udah kenapa kalau belum kenapa?” jawabnya dengan nada bercanda.
“Kok
malah bercanda ukhti, kan aku tanya serius?” pintah ku.
“hehehe....
belum memangnya kenapa?” Jawabnya.
“Bolehkah
aku mengkhitbahmu?” ujar ku dengan sedikit gugup. Zahra hanya diam dia
memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam, aku takut ucapan ku tadi
menyakiti hatinya.
“Ikhwan
saat ini memang belum ada satupun laki-laki yang mengkhitbah ku, namun maaf
ikhwan zahra tidak bisa menjawabnya. Kalaupun ikhwan benar-benar ingin
mengkhitbahku temuilah kedua orang tua ku, sesungguhnya jawaban atas khitbahmu
ada pada kedua orang tua ku” ujarnya.
Aku
tertegun mendengar jawabannya yang begitu mulia, dia tidak ingin salah dalam
memilih pasangan hidupnya. Setelah mendengar jawabannya aku berniat untuk
menemui kedua orang tuanya, dan aku minta restu kepada abi dan umi.
“Apa kau
sudah istikharah nak?” Tanya umi.
“Sudah
umi” Jawabku.
“Nanti
kalau ditolak gimana? Apa kamu gak sakit hati?” Ujar abi yang tak ingin
aku salah dalam mengambil keputusan.
“Abi
umi, ibrahim ingin melengkapi separuh agama ibrahim dengan orang yang selalu di
jalan Allah dan selalu menjalankan syari’at-Nya. Ibrahim sudah bermunajat
kepada Allah dan ibrahim yakin bahwa petunjuk dari Allah selama ini adalah
jawabannya, dan jika ibrahim nanti di tolak ibrahim tidak akan kecewa atau
menyesal karena ibrahim yakin bahwa sesungguhnya Allah tidak memberikan tulang rusuk
yang salah dan mungkin zahra bukan jodoh ibrahim” Jawab ku seraya meyakinkan
abi dan umi.
“Yasudah,
kasih tahu zahra kalau besok kita kesana bersama ustadz hari, untuk
melaksanakan ta’aruf, abi berharap selepas ta’aruf dengan zahra dan jika nanti
zahra belum bisa menerima jangan sakit hati karena Allah sudah merancanakannya
dengan baik” setelah mendengar jawaban abi aku langsung memberitahu zahra bahwa
besok kami sekeluarga beserta ust.hari akan bersilaturahmi di rumahnya dan
zahra menyanggupinya, keluarganya dengan senang hati menerima silaturahmi
keluarga kami dan ust.hari.
Keesokan
hari ba’da sholat isya kami sekeluarga beserta ust.Hari menuju rumah zahra,
kebetulan jarak rumahku dengan zahra gak begitu jauh. Sesampai di rumah zahra
keluarganya menyambut dengan penuh keramahan, suasana saat itu menjadi cair
karena saling senda gurau.
“Sebentar
lagi kita besanan ya pak” ujar pak rahmad kepada abi.
“Iya
pak, semoga besananannya lancar ya pak” jawab abi disambut senyuman dari pak
rahmad.
“Yasudah
bapak-bapak dan ibu-ibu, kedatangan kami disini untuk malaksanakan ta’aruf.
Seperti yang di inginkan saudara Muhammad Ibrahim Al-Farizi, yang berniat
meminang saudari Annisa Az-Zahra.” Sahut ust.Hari
“Zahra....Zahra...
sini nak, temui calon imam mu” Teriak pak rahmad memanggil zahra yang berada di
dalam kamar.
Tak
berselang lama zahra keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu, menemui
kami semua dan dia duduk di samping orang tuanya. Waktu itu dia menggunakan
baju gamis biru, dia nampak lebih anggun dengan jilbab putih sebagai
mahkotanya.
“Begini
nak zahra, kedatangan nak ibrahim disini berniat untuk menghkhitbah nak zahra.
Apa nak zahra menerima khitbah dari nak ibrahim?” tanya ust.hari.
“Disini
abah tidak memaksa dan tidak mengekang nak, semua jawaban dan keputusan ada di
kamu nak. Apalagi kalian berdua sudah kenal satu sama lain” Ujar pak rahmad.
“Apa
yang dikatakan abahmu benar nak disini tidak ada unsur paksaan, termasuk
ibrahim ini murni niat baiknya untuk melengkapi separuh agamanya tanpa ada
paksaan” sahut abi.
“Gimana
nak? Apa sudah ada jawabannya?” Ust.Hari kembali bertanya.
“Selama
kenal dengan ibrahim, zahra sangat nyaman berada di dekatnya. Zahra mendambakan
sosok imam yang baik, imam yang selalu membimbing zahra ke jalan Allah,
seseorang yang selalu mengingatkan ketika zahra salah dalam melangkah. Memang
selama ini banyak laki-laki yang mengungkapkan isi hatinya kepada zahra, dan
mengajak zahra pacaran. Namun yang berniat untuk mengkhtibah zahra baru
ibrahim” jawab zahra dengan lemah lembut.
“Lantas
apa zahra menerima khitbah dari ibrahim?” Tanya ust.hari.
“Setelah
zahra bermunajat kepada Allah, dan berfikir secara matang.
Bissmillahirohmanirrohim... zahra terima khitbah dari ibrahim, dan zahra siap
menjadi ma’mum ibrahim dalam suka maupun duka” ujar zahra dan disambut dengan
“Alhamdulillah” oleh semua orang yang berada di ruangan tersebut, seketika itu
hatiku gembira khitbah ku diterima oleh zahra. Dan seketika itu pula kedua
orang tua ku dan kedua orang tua zahra menentukan tanggal pernikahan, kami
semua sepakat bahwa acara resepsi pernikahanku dengan zahra dilaksanakan bulan
depan.
Yang ku
tunggu akhirnya tiba juga dimana hari ini adalah hari pernikahanku dengan
zahra, setelah hampir dua minggu tidak bertemu dengannya kini dipertemukan
ketika ijab qabul. Hatiku merasa bahagia sekaligus gugup karena masih tak
menyangka kalau zahra kini akan jadi ma’mumku, harapanku semua akan berjalan
lancar mulai ijab qabul hingga menjalani bahtera rumah tangga bersamnya. Saat akan
mengucap janji suci tak henti-hentinya aku bersholawat agar ketika mengucap
janji tidak ada halangan, ketika berhadapan dengan penghulu aku semakin gugup
karena takut salah dalam mengucapkan ijab qabul. Ketika penghulu mengucap ijab
dan aku menjawab “Saya terima nikahnya dan kawinnya Annisa Az-Zahra binti
Rahmad efendi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan kitab suci Al-Quran
dibayar tunai” dan semua menjawab “sah”. Dalam hati aku tak henti-hentinya
bersyukur kepada Allah karena diberi kelancaran dalam mengucap janji suci, dan
kini zahra yang selama ini ku kagumi saat melantunkan ayat suci telah sah
menjadi istriku. Tak lama setelah ijab qabul zahra keluar dari kamarnya dengan
menggunakan baju gamis putih, dan jilbab syar’i putih sebagai mahkota penutup
auratnya tampak lebih cantik. Dengan lembut dia menyium tanganku dan melempar senyum
bahagia sambil berkata “Alhamdulillah kita sudah sah sesuai agama ya mas” aku
hanya membalasnya dengan kecupan manis di keningnya. Tak henti-hentinya aku
bersyukur kepada Allah karena telah mempersatukan ku dengan wanita yang penuh
dengan aura cinta suci, ucapan selamat atas pernikahanku juga datang dari
sahabat karibku annas dan fitriah.
“Selamat
gus kau telah melengkapi separuh agamamu dengan wanita pilihanmu” ujar annas
sambil menjabat tanganku kemudian memelukku.
“Terima
kasih gus kau sungguh sahabat sejatiku, kapan kau menyusul kami dengan fitriah?”
godaku fitriah dan annas pun hanya tertunduk malu.
“Udah
gak usah malu-malu, zahra doain deh semoga cepet nyusul kami berdua” sahut
istriku dan di sambut “Amin” oleh fitriah dan annas.
Hari-hari
yang kujalani dengan zahra begitu indah hingga pada suatu hari ust.hari
menawariku untuk mengasuh di pondok pesantren, karena ust.hari akan melanjutkan
kuliah S3 di universitas Al-Azhar kairo sehingga untuk sementara aku di beri
amanah untuk mengasuh para santri. Zahra pun menyetujuinya kami berdua dengan
senang hati mengasuh pondok pesantren Al-Ikhlas, dan sebagai hadiah pernikahan
kami bulan depan umi dan abi beserta keluarga pak rahmad mengajak aku dan zahra
melaksanakan umroh bersama. Akupun merasa bahagia karena ini pertama kalinya
aku bersilaturahmi di tempat suci, bersama orang yang ku sayangi dan istri yang
selalu ku cintai. Aku selalu berdoa semoga Allah selalu melindungi kami dalam
mengarungi rumah tangga, dan berharap semoga keberkahan selalu menghampiri
keluarga kami. Amin.
050215 (NS_24)

4 komentar
Click here for komentarCeritanya bagus (y)
Replyhttp://ilhamabdii.blogspot.com
Dibuat lebih bagus lagi dengan merapikan setiap kata yang tersusun dengan bagian paragraf (Y)
Replyterima kasihgan
ReplyOke gan
ReplyConversionConversion EmoticonEmoticon